Setelah Sebulan Pakai Earbuds Ini, Inilah Hal yang Mengejutkan

Awal April lalu saya memutuskan membeli sepasang earbuds yang sedang viral—bukan karena iklan, tapi karena kebutuhan. Saya sedang bolak-balik antara kantor, kafe, dan gym; ingin solusi audio yang ringan, nyaman dipakai berjam-jam, serta punya ANC yang layak untuk meredam suara lalu lintas. Harganya kompetitif dan ulasan awal menjanjikan, jadi saya klik “beli” lewat toko online yang sering saya gunakan: swgstoresa. Pengiriman cepat, bungkus rapi—kesan pertama bagus. Namun pengalaman nyata baru muncul setelah sebulan pemakaian intens.

Pertemuan Pertama: kotak, build, dan impresi awal

Membuka kotak di meja dapur pada sore hujan itu memberi sensasi yang berbeda. Case terasa solid, finishing matte yang tidak mudah terlihat bekas jari. Earbudsnya ringan—kurang dari 5 gram per sisi—dan desainnya agak memanjang, mirip stick. Saat pairing pertama, prosesnya mulus: satu kali tap, notifikasi pop-up dan langsung tersambung ke laptop dan ponsel. Suara keluar jelas, vokal tajam, bass cukup punchy untuk playlist lari saya. Saya pikir, “bagus, ini dia.”

Tapi ada hal kecil yang mengusik: tombol sentuh cukup sensitif. Di dua lari pertama saya sering salah mem-pause lagu karena menyentuh saat merapikan rambut. Saya ingat bergumam, “Harus belajar menyesuaikan.” Itu momen pertama menyadarkan: review awal sering memberi gambaran baik, tetapi pemakaian sehari-hari menguji detail-detail kecil.

Minggu Pertama: ekspektasi berbenturan dengan realita

Pada hari ketujuh, saya naik kereta jam 07.15 menuju kantor—uji coba ANC di medan sesungguhnya. Hasilnya campur aduk. Mode ANC memang meredam frekuensi rendah seperti deru mesin, tapi tidak terlalu efektif terhadap percakapan penumpang di dekat. Ada momen frustrasi ketika seorang penumpang tertawa keras; saya masih menangkap potongan percakapan. Dalam hati saya berpikir, “Bukankah ini fungsi utama ANC?”

Call quality juga menjadi sorotan. Saat presentasi di Zoom, rekan tim memberi tahu saya terdengar agak “teredam” ketika sedang berada di ruangan ber-AC. Namun ketika saya pindah ke balkon kantor yang berangin, mic menangani angin lebih baik dari perkiraan—kemungkinan berkat desain nozzle yang agak kecil. Pelajaran pertama: kondisi lingkungan memengaruhi pengalaman jauh lebih banyak daripada spesifikasi teknis.

Minggu Setelahnya: pembaruan, penyesuaian, dan rutinitas

Saya memasang aplikasi pendamping di ponsel pada hari ke-10. Di sana ada pembaruan firmware yang memperbaiki respons sentuh dan sedikit meningkatkan performa ANC. Pembaruan ini mengubah permainan. Kontrol sentuh menjadi lebih andal setelah saya menurunkan sensitivitasnya; ANC terasa lebih natural, bukan “kosong”. Saya mulai rutin menggunakan equalizer custom—menurunkan mid-low 300–600Hz untuk memberi ruang pada vokal saat podcast.

Baterai ternyata konsisten dengan klaim pabrikan: sekitar 6 jam penggunaan aktif dengan ANC on, dan case menambah dua hingga tiga kali pengisian. Satu pagi saya lupa charge case semalam, tapi masih bisa pakai hingga siang. Di sisi lain, latency terasa ketika bermain game mobile kompetitif—sekitar 80–100 ms delay, cukup untuk gamer serius tapi tidak bermasalah untuk nonton video atau casual gaming.

Kesimpulan Setelah Sebulan: hal yang mengejutkan dan rekomendasi

Hal yang paling mengejutkan bukanlah kualitas audio murni, melainkan adaptabilitas earbuds ini. Dalam 30 hari saya menemukan bahwa kombinasi firmware update, penyesuaian EQ, dan pemilihan eartips membuat perbedaan besar. Sesuatu yang awalnya terasa setengah matang bisa menjadi alat yang sangat andal jika diberi waktu dan penyesuaian. Ini pelajaran berharga: jangan langsung menghakimi sebelum mencoba tweak sederhana.

Saya juga terkejut oleh daya tahan fisik. Setelah beberapa kali masuk tas tanpa case dan satu kali kehujanan ringan saat berlari, earbuds masih berfungsi normal. Perawatan rutin—membersihkan nozzle dengan sikat halus dan mengeringkan case—membantu mempertahankan performa mikrofon dan konektivitas. Itu detail yang sering diabaikan, padahal sangat krusial untuk pemakaian jangka panjang.

Jadi, untuk siapa earbuds ini cocok? Jika Anda pekerja hybrid yang butuh mobilitas, penggemar podcast, atau pelari yang menginginkan suara enak dan ANC wajar—ini pilihan solid. Jika Anda gamer kompetitif atau mengutamakan noise-cancelling absolut di lingkungan ramai, mungkin perlu mempertimbangkan opsi lain. Rekomendasi praktis saya: update firmware segera, coba semua ukuran eartips, setel sensitivitas kontrol sentuh, dan gunakan EQ untuk menyesuaikan preferensi.

Satu bulan bersama earbuds ini mengajarkan saya nilai sabar dan eksperimen. Produk yang “cukup baik” bisa menjadi sangat memuaskan ketika kita tahu cara mengoptimalkannya. Saya masih penasaran bagaimana performanya dalam enam bulan—apakah daya tahan baterai akan tetap stabil, apakah firmware lain akan memperbaiki lebih jauh. Untuk sekarang, saya merasa puas: tidak sempurna, tapi lebih baik dari yang saya duga. Dan itu—kadang—lebih penting daripada rating bintang lima di awal.